Sabtu, 26 Maret 2011

Teman yang Salah/Sesat (Pāpamitta)


Salah satu sebab dari tidak tercapainya Dhamma Mulia adalah karena bergaul atau berhubungan dengan teman yang salah/sesat (Pāpamitta). Bahkan, walaupun seseorang telah memenuhi kesempurnaan dalam kebaikan (Kusala Pārami) dan sekarang dia layak untuk mencapai Sang Jalan (Magga), Buah (Phala) Kesucian, dan Nibbāna, jika dia bergaul dengan teman yang salah, dia tidak akan merealisasi Dhamma Mulia di kehidupan ini juga.  

Saya yakin teman-teman se-Dhamma semuanya telah sering mendengar tentang Raja Ajātasattu. Nama itu terdiri dari 2 kata, Ajāta dan Sattu. Ajāta artinya ’bahkan sebelum terlahir’ dan  Sattu artinya ’musuh.’ Bahkan sebelum dia terlahir, ketika masih di dalam kandungan ibunya, dia mendambakan darah dari lengan ayahnya.

Ketika Raja berkonsultasi dengan para penasihat kerajaan,  mereka meramalkan bahwa Ajātasattu akan menjadi seorang Pangeran yang akan membunuh ayahnya. Setelah tumbuh dewasa, Ajātasattu bertemu dengan Devadatta yang telah mendapatkan banyak kekuatan supra natural dan menasihatinya untuk membunuh ayahnya, Raja Bimbisara.

Dia membunuh ayahnya dengan keji, mengiris-iris telapak kaki ayahnya dengan pisau, menaburi garam, dan memanggangnya di atas api. Dengan membunuh ayahnya, dia melakukan salah satu dari 5 perbuatan paling buruk (Ānantariya Kamma: membunuh Ayah, Ibu, Arahat, melukai Sang Buddha, dan memecah belah Sangha). Ajātasattu tidak dapat merealisasi Dhamma Mulia karena telah melakukan perbuatan paling buruk tersebut. Sebenarnya, Pangeran Ajātasattu adalah seorang yang dapat menjadi Sotāpanna dan menutup pintu empat alam rendah (Apāya) pada akhir ceramah Sāmana Phala Sutta yang dibabarkan oleh Sang Buddha.

Akibat bergaul dengan orang yang salah (Pāpamitta) seperti Devadatta, Pangeran Ajātasattu bukan hanya kehilangan kesempatan untuk merealisasi Dhamma Mulia, tetapi juga dia terlahir di salah satu alam neraka (Lohakumbhi). Dia masih menderita di alam neraka itu sekarang. Jadi bergaul dengan orang yang salah itu sangat mengerikan. Seseorang, selain tidak dapat merealisasi Dhamma Mulia, juga akan menderita di neraka.

Sekarang tidak ada teman yang salah (Pāpamitta) yang mempunyai kekuatan super normal, tetapi ada teman yang sesat yang mempunyai pandangan salah (Miccha Pāpamitta). Orang-orang yang mempunyai ideologi atau keyakinan yang salah dapat dikatakan sebagai Miccha Pāpamitta. Jika seseorang tertarik pada ideologi yang salah (Miccha Vāda) dan berteman dengan orang yang mempunyai ideologi demikian; dia tidak akan dapat merealisasi Dhamma Mulia walaupun dia telah mempunyai kesempurnaan kebaikan (Kusala Pārami) yang telah dikumpulkannya pada kehidupan lalunya yang tidak terhitung.

Gunakanlah kesempatan kehidupan yang mulia ini, terlahir sebagai manusia, dengan berlatih meditasi sebaik-baiknya. Mereka yang belum berlatih meditasi dengan baik, keyakinannya belum mantap. Mereka dapat dengan mudah berpindah keyakinannya akibat berteman dengan Pāpamitta. Hal itu sangatlah menakutkan. Janganlah hal yang dialami oleh Pangeran Ajātasattu terjadi pada teman-teman se-Dhamma. Kisah Pangeran Ajātasattu adalah salah satu kisah di mana akibat bergaul atau berhubungan dengan teman yang salah/sesat (Pāpamitta), Dhamma Mulia tidak dapat tercapai.

Dikutip dari "Sharpening The Controlling Faculties" by Sayadaw U Kundala, hal 326-328.
=======================================================
Semoga setelah membaca atau mendengar hal ini, semua makhluk dapat mengikuti, berlatih, dan berkembang sesuai kesempurnaan (p
ārami) masing-masing. Semoga semua makhluk dapat merealisasi Dhamma Mulia dan kedamaian serta kebahagiaan Nibbāna, padamnya semua penderitaan, yang telah semua makhluk cita-citakan dengan latihan yang mudah dan cepat. Sādhu! Sādhu! Sādhu!

Metta untuk semua….
Tangerang, 12 Mei, 2009
Andi Kusnadi
Andinadi@hotmail.com

Tidak ada komentar: