Jumat, 13 September 2013

ZHANG TIAN SHI / THIO THIAN SU 張天師



Zhang Tian Shi / Thio Thian Su 張天師 (34-156) adalah pendiri agama Dao Jiao / To Kau 道教. Nama aslinya Zhang Dao Ling / Thio To Leng 張道陵, dia adalah keturunan ke-8 dari Zhang Liang / Thio Liang 張良, seorang ahli siasat perang pada awal dinasti Han 漢朝.

Zhang Dao Ling dilahirkan tahun 35 Masehi, pada masa pemerintahan Kaisar Guang Wu / Kong Bu 光武帝 dari dinasti Han, di Tianmu Shan / Thian Bok San 天目山, propinsi Zhejiang /Ciatkang 浙江. Dalam usia yang sangat muda, dia telah berhasil memahami Dao De Jing / To Tek Keng 道德經 dari Lao Zi / Lo Cu 老子. Beberapa kali ia menolak panggilan pihak penguasa untuk menjadi pegawai negeri, seluruh perhatiannya dicurahkan pada pelajaran kebatinan dan semedi. Kemudian ia tinggal di Pegunungan Heming Shan / Ho Beng San 和名山 di propinsi Sichuan / Suchuan 四川, Tiongkok Barat Daya dan bertapa di sana sambil mempelajari cara membuat obat panjang umur.

Pada suatu hari, selagi ia membuat obat panjang umur Long Hu Dan / Liong Hou Tan 龍虎丹, seorang malaikat menampakkan diri dan menyuruhnya pergi ke gunung Song Shan / Siong San 嵩山, di propinsi Henan / Holam 河南. Di sana, dalam sebuah gua batu, beliau menemukan kitab-kitab kuno peninggalan Tiga Kaisar (San Huang /Sam Hong 三皇) dan pedupaan peninggalan Kaisar Huang Di / Ui Te 黃帝.

Setelah mempelajari isi kitab-kitab kuno itu, dia dapat terbang dan mempunyai pendengaran sampai ke tempat jauh, lebih dari itu dia juga dapat meninggalkan raganya (meraga sukma). Beliau lalu menunaikan tugas yang diberikan oleh Penguasa Langit melalui seorang malaikat untuk menaklukkan para siluman dan malaikat yang membangkang.Kemudian Tai Shang Lao Jun / Thai Siang Lo Kun 太上老君 menyuruhnya pergi ke Gunung Qing Cheng Shan / Cheng Seng San 青城山 untuk menaklukkan 6 orang raja siluman yang kerap meneror rakyat dan ia dibekali dengan berbagai benda wasiat. Para siluman itu berhasil ditundukkan dan diusirnya, setelah minta ampun dan berjanji tidak akan mengganggu rakyat lagi. Karena jasa-jasanya itu beliau mendapat gelar Tian Shi / Thian Su 天師 dan diangkat ke kahyangan. Di sana tugasnya mewakili Lao Jun / Lo Kun 老君 menerima para malaikat yang menghadap. Dia juga bertugas mengawasi upacara-upacara sembahyang yang dilakukan pada saat pendirian atau pemugaran kelenteng.

Zhang Tao Ling memang dianggap sebagai pendiri dari Dao Jiao / To Kau 道教 (agama Dao / To 道 yang berdasarkan filsafat Taoisme). Keahliannya membuat obat-obatan panjang umur yang diperolehnya dari buku-buku kuno, dan menciptakan berbagai jimat atau kias untuk menolak berbagai macam penyakit dan bala, telah menempatkan Zhang Dao Ling ke kedudukan tinggi sekali di mata para pengikutnya. Sejak itulah pengikut Taoisme mulai menjalankan praktik pengobatan dan pengusiran setan.

Beliau dilukiskan dengan jubah yang indah, membawa pedang di tangan kanan, sedangkan tangan kirinya membawa mangkok yang berisi ramuan panjang umur dan menunggang harimau. Harimau itu satu kaki depannya nampak mengcengkram medali wasiat dan kaki-kaki lainnya menginjak lima binatang berbisa, seperti kadal, ular, laba-laba, katak dan belalang.

Gambar-gambar beliau pada umumnya ditempatkan pada dinding rumah atau pintu depan, pada tanggal 15 bulan 5 Imlek, untuk menolak bencana dan wabah penyakit. Nama Tian Shi, yang berarti Guru dari Langit, yang kemudian melekat padanya, selanjutnya berlaku turun-menurun bagi keturunannya. Mereka menempati Gunung Long Hu Shan / Liong Hou San 龍虎山 di propinsi Jiangxi / Kangsai 江西.

Hari besarnya adalah tanggal 23 bulan 6 Imlek.


https://www.facebook.com/photo.php?fbid=516143708468908&set=a.451274724955807.1073741825.100002198507840&type=1&theater

Kamis, 12 September 2013

Agama Dao Dan Filsafat Dao



Daojiao juebu Daojia. Agama Dao pasti bukan filsafat Dao. Filsafat Dao didirikan oleh Laozi (abad ke 6SM), agama Dao didirikan oleh Zhang daoling (34-156). Filsafat Dao bermula dari kitab Daodejing sementara agama Dao bermula Taishang laojun zhenjing. Kitab Daodejing ditulis oleh Laozi sementara Taishang laojun zhenjing ditulis oleh Zhang daoling sebagai wahyu dari Laozi.

Walaupun banyak umat Dao (dibaca: Tao) yakin bahwa agama Dao pertama kali dianut oleh manusia pertama Fuxi (2852-2737SM), dilembagakan oleh Raja Huangdi (2697-2598SM) dan diajarkan sebagai agama oleh Laozi (abad ke 6SM) namun sejarah mencatat bahwa pendiri agama Dao adalah Zhang daoling (34-156).

Agama Dao adalah Panentheisme: Seluruh alam semesta ada di dalam Dao yang lebih besar dari alam semesta ini. Pantheisme: Segala sesuatu berasal dari Dao dan Dao mewujud di dalam segala sesuatu. Polytheisme: Menyembah banyak dewa-dewi. Politheisme Henotheisme: Menyembah banyak dewa-dewi yang dipimpin dan diciptakan oleh Dao.

Kisah Penciptaan Agama Dao

Pada mulanya adalah Wuwu (Tidak Ada Tidak Ada). Disebut tidak ada karena tidak dapat didefinisikan. Di sebut Tidak Ada Tidak Ada karena Dia ada. Dia adalah Ziran(Yang Ada Karena Dirinya Ada). Ziran adalah Wuji (Yang Tidak Ada Batas). Karena tidak ada yang membatasiNya, maka Dia adalah Taiji (Yang Mahabatas). Yang Mahabatas adalah Taiyi (Yang Mahakuasa). Pada mulanya adalah hundun (campur baur yang tidak dapat didefinisikan). Taiyi berkarya melalui Taichu (Yang Mahapertama) dan Taishi (Yang Mahamula). Taichu memiliki xing (wujud) sedangkan Taishi memiliki Qi (nafas hidup). Ketika wujud (xing) menyatu dengan nafas hidup (qi), jadilah Taishu (yang sulung) yang memiliki zhi (hakekat). Hakekat sifat adalah Yin (betina) dan Yang (jantan). Hakekat wujud adalah wuxing (lima unsur), kayu, tanah, logam, air dan api.

Pan Gu Sang Pencipta Dunia

Dao mewujud (inkarnasi) menjadi Pan Gu untuk menciptakan dunia. Pan Gu lalu disembah sebagai Yuanshi tianzun, Dewa Yang Mahamula. Ketika manusia hidup di dalam kekacauan, Dao lalu mewujud menjadi raja Huangdi untuk memimpin dan membimbing manusia. Setelah Huangdi menjadi dewa, dia disembah sebagai Lingbao Tianzun (Dewa Yang Mahamulia) atau Shangqing tianzun (Dewa Yang Mahasuci). Ketika manusia kehilangan pemahamannya akan ibadah dan moral, Dao mewujud menjadi Laozi untuk mengajarkan Daode (kebajikan Dao). Laozi lalu disembah sebagai Daode tianzun (Dewa Yang Mahabajik) atau Taishang laozun (Dewa Yang Mahatua). Yuanshi tianzun, Lingbao Tianzun dan Taishang laozun adalah tiga dewa tertinggi di dalam agama Dao.

Yuanshi Tianzun Menciptakan Alam Semesta

Alam semesta memiliki awal dan akhir. Awal alam semesta disebut penciptaan sedangkan akhir alam semesta disebut kiamat. Setelah diciptakan, alam semesta bertumbuh kembang menuju kiamat sedangkan kiamat adalah awal penciptaan alam semesta baru. Siklus penciptaan dan kiamat itu disebut naga Han (longhan) atau kelanjutan hidup (yankang) atau sinar membara (chiming). Kiamat berarti musnahnya segala sesuatu yang berwujud, hanya makluk-makluk abadi yang sempurna (shenxian) saja yang bertahan. Setelah kiamat, angin puting beliung (jin gang feng) berhembus di jagad campur baur (hundun) tanpa cahaya, tanpa wujud apalagi bentuk.

Pada saat energi Dao (Daoqi) menyatu, sekonyong-konyong dari kekosongan muncul buku oktagonal (patkwa) yang kedelapan sudutnya memancarkan sinar dan tulisannya berukuran dua belas kaki. Ketika melihat cahaya itu, tahulah Dewa yang mahamula (Yuanshi tianzun) bahwa permulaan alam semesta sudah dimulai. Dia lalu mengambil huruf pualam dalam patkwa dan menempanya hingga membara sehingga disebut Huruf Pualam Membara (Chishu yuzi). Huruf Pualam Membara adalah cetakan asli alam semesta (Yuangang), dari cetakan itulah alam semesta dibentuk.

Kitab Keselamatan Manusia (Duren jing) mencatat: Dari Huruf Pualam Membara di dalam gua campur baur (Hundong) muncullah hakekat kebenaran dari kekosongan. Pembentukan alam semesta dimulai dengan terbentuknya langit, matahari, bulan dan bintang-bintang sebagai penerang. Semuanya terbentuk dari ketiadaan (Creatio at nihilo).

Tujuan Hidup Manusia

Di antara segala ciptaan, manusia adalah ciptaan yang paling mulia karena memiliki ling atau kebijaksanaan dan kecerdasan. Tujuan hidup manusia adalah bertumbuh kembang sesuai kodratnya untuk menggapai kesempurnaan emas (jinxian). Kesempurnaan emas berarti hidup abadi. Hidup abadi berarti tidak akan mati walaupun dunia kiamat. Manusia-manusia yang mencapai kesempurnaan tersebut disebut Shengren (manusia suci) atau Shengxian (makluk suci abadi).

Hidup sebagai manusia bukan satu-satunya kehidupan, namun suatu tahap yang harus dilalui untuk menggapai kehidupan berikutnya. Setiap manusia selalu tergoda untuk menjalani hidup senyaman dan semudah mungkin serta menikmati kesenangan sepuas mungkin. Banyak manusia yang lupa alasan dan tujuan hidupnya, itu sebabnya mereka hanya mengejar kesenangan dan kepuasan tanpa mempertimbangkan standard kebajikan dan keharmonisan. Orang-orang demikian berusaha mewujudkan semua keinginannya dan menggapai semua kesenangan yang dapat diperolehnya dengan cara apapun bila perlu dengan mengorbankan manusia lain dan merusak keseimbangan alam. Orang-orang demikian akan mendapatkan balasannya waktu masih hidup bahkan setelah mati.

Hidup adalah hal yang paling berharga selama manusia hidup karena hidup adalah kesempatan untuk menggapai kesempurnaan atau mendaki ke tingkat hidup berikutnya. Umat Dao percaya bahwa umur manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri. Manusia dapat memperpanjang umurnya bahkan dapat hidup abadi dengan cara mengembangkan kehidupan moral yang tinggi, menjalani kehidupan yang sehat, makan makanan sehat bahkan yang berkhasiat, melakukan meditasi serta olahraga (Qigong, Taiji quan) secara sistematis, dan menggunakan jimat untuk mengusir roh-roh jahat yang menyebabkan sakit.

Manusia yang mampu menggenapi kodrat kemanusiaannya akan menjadi xianren atau manusia dewa. Manusia dewa yang mampu menggenapi kodratnya akan menjadi zhenren atau manusia sejati. Manusia sejati yang mampu menggenapi kodratnya akan menjadi Shengren atau manusia suci atau Shengxian artinya makluk suci abadi. Manusia yang tidak menggenapi kodrat kemanusiaannya akan pergi ke Diyu atau neraka untuk menanggung hukumannya. Perpindahan status manusia dari kasta yang satu ke kasta yang lainnya disebut reinkarnasi.

Manusia tinggal di dunia sementara manusia dewa, manusia sejati dan manusia suci tinggal di tempat-tempat suci dan di Tian atau langit atau surga. Tempat-tempat suci itu terdiri dari Sepuluh Benua, Tiga Pulau, sepuluh gua langit besar (Shida dongtian), tiga puluh enam gua langit kecil (Sanshiliu xiaodong tian) dan tujuh puluh dua tempat keberuntungan (Qishier fudi ) yang tersebar di gunung-gunung di Tiongkok.

Sepuluh Benua Dan Tiga Pulau

Selain tinggal di surga ada pula dewa-dewi yang tinggal di bumi. Di bumi ada sepuluh benua (Shizhou) dan tiga pulau (sandao) tempat tinggal dewa-dewi dan orang suci (shenxian fangshi).

Sepuluh benua (Shizhou):

Zuzhou
Yingzhou
Xuanzhou
Yanzhou
Changzhou
Yuanzhou
Liuzhou
Shengzhou
Fenglinzhou
Jukuzhou
Tiga Pulau (sandao):

Pengqiudao atau Penglaidao
Fangzhangdao
Kunlundao
Pulau Yingzhou ada di laut timur, luasnya 4.000 mil, di sana rumput keabadian tumbuh dengan subur dan berlimpah, batu-batu giok (jade) berserakan setinggi 10.000 kaki dan banyak sekali mata air yang memancarkan air yang rasanya seperti anggur yang berkasiat membuat manusia panjang umur.

Pulau Fangzhang ada di sebelah timur Laut China, luasnya 5.000 mil dan diperintah oleh Dewa pengendali nasib tiga langit (Santian siming). Orang-orang ke sana untuk mendapatkan Catatan Misteri Kelahiran (Taishang xuansheng lu). Istana Sembilan Orang Tua (Jiuyuan zhangren gong) yang berkuasa atas semua roh air, naga, ular, ikan paus dan binatang air di dunia juga ada di sana.

Pulau Penglai ada di sebelah timur laut dari laut China Timur, luasnya 5.000 li. Pulau itu digunakan oleh Raja Langit (Tiandi) untuk mengikat sembilan langit. Dahulu kala, ketika Yu yang Agung (Dayu) selesai menangani bencana banjir zaman pemerintahan raja Shun, dia berkunjung ke pulau itu untuk menyembah Raja Langit di gunung yang ada di utara pulau itu, dia mendapat berkat dari sembilan langit.

Selain sepuluh benua dan tiga pulau di bumi ini juga ada sepuluh gua langit besar (Shida dongtian), tiga puluh enam gua langit kecil (Sanshiliu xiaodong tian) dan tujuh puluh dua tempat keberuntungan (Qishier fudi) yang tersebar di gunung-gunung di Tiongkok.

Tiga Puluh Enam Langit

Agama Dao membagi alam semesta menjadi tiga bagian yaitu: Tian (langit atau surga), Di (bumi) dan Diyu (dunia bawah atau neraka). Tian atau langit terbgi menjadi 36 tingkat (Sanshiliu daluo tian). Di masing-masing penjuru angin ada delapan langit, di atas ketiga puluh dua langit itu ada tiga langit dan satu langit yang melingkupi semua langit (35 langit).

Sanshiliu tian

1. Taihuang Huangceng
2. Taiming Yuwan
3. Qingming Hetong
4. Xuantai Pingyu
5. Yuanming Wenju
6. Shangming Qiyao Moyi
7. Xuwu Yueheng
8. Taiji Mengyi
9. Ciming Heyang
10. Xuanming Gonghua
11. Yaoming Zhongpiao
12. Zhuluo Huangjia
13. Xuming Tangliao
14. Guanming Duanjing
15. Xuanming Gongqing
16 Taihuan Jiyao
17 Yuanzai Kongshen
18. Tai’an Wangya
19. Xianding Jifeng
20. Sihuang Xiaomang
21. Taiji Weng Chongfu Rong
22. Wusi Jiangyou
23. Shangshe Ruanle
24. Wuji Fangshi
25. Haoting Xiaodu
26. Yuantong Yuandong
27. Taiwen Hanchong Miaocheng
28. Taisu Xiule Jingshang
29. Taisu Wushang Changrong
30. Taishi Yulong Tengsheng
31. Longbian Fandu
32. Taiji Pingyu Jiayi
33. Taqing Tian
34. Shangqing Tian
35. Yuqing Tian
36. Yujing Tian

Surga Berdasarkan Letaknya:

1. Langit Timur (Dongtian) – 8 langit
2. Langit Barat (Xitian) – 8 langit
3. Langit Selatan (Nantian) – 8 langit
4. Langit Utara (Beitian) – 8 langit
5. Langit Atas (Shangtian) – 3 langit
6. Dao – 1

Langit Berdasarkan Penghuni:

1. Lagnit Tiga Bentuk (Sanjie) – 28 langit
1.1. Langit Bentuk & Nafsu (Yujie) – 6 langit
1.2. Langit Bentuk (Sejie) – 18 langit
1.3. Langit Tanpa Bentuk (wusejie) – 4 langit
2. Langit Sempurna (sifantian) – 3 langit
3. Langit Mahasuci (Sanqing jing) – 3 langit
4. Dao – 1 langit

28 langit pertama disebut langit 3 wujud (Sanjie) yang dihuni oleh dewa-dewi fana yang yang masih bisa mati dan mengalami reinkarnasi.

Langit 1- 6 disebut langit nafsu (Yujie) Di langit ini tinggal dewa-dewi yang memiliki wujud dan nafsu, mereka masih memiliki jenis kelamin, kawin dan melahirkan anak.

Langit 7 – 24 disebut langit wujud (Sejie). Di langit ini tinggal dewa-dewi yang memiliki wujud namun tidak memiliki nafsu lagi. Langit tingkat

Langit 25 – 28 disebut langit tanpa wujud (wusejie). Di langit ini tinggal dewa-dewi yang tidak memiliki wujud dan tidak memiliki nafsu, mereka tidak dapat dilihat oleh manusia biasa namun dapat dilihat oleh orang-orang suci (zhenren).

Langit tingkat 29 – 32 disebut empat langit sempurna (sifantian) atau langit bibit manusia (Zhongmintian) karena di langit ini tinggal dewa-dewi tanpa rupa dan wujud, tanpa nafsu dan abadi sehingga tidak mengalami reinkarnasi lagi dan tidak ikut musnah ketika kiamat.

Langit tingkat 33 – 35 disebut tiga wilayah mahasempurna (sanqingjing) atau sanqingtian (tiga langit mahasempurna). Di tiga langit mahasempurna inilah bertahta Trisuci (Sanqing) atau tiga dewa mahasempurna yaitu.

Shenbao (pusaka roh) atau Daode Tianzun (Mahadewa kebajikan) atau Taishang Laojun (Mahadewa mahatua) tinggal di Taiqing tian (langit mahabesar), langit tingkat 33.

Lingbao Tianzun (Pusaka bijaksana) tinggal di Shangqing tian (Langit Mahatinggi), langit tingkat 34 sebagai penjaga kitab-kitab suci, penghitung dan pembagi waktu serta mengatur interaksi antara yin (negatif) dan yang (positif).

Tianbao (pusaka langit) atau Yuanshi Tianzun (mahadewa mahamula) tinggal di Yuqing tian (Langit Pualam Mahamulia), langit tingkat 35. Yuanshi Tianzun adalah mahadewa pencipta alam semesta.

Langit tingkat tiga puluh enam adalah langit dari segala langit (daluotian). Langit ini melingkupi semua langit, bumi dan dunia bawah. Di sanalah berdiri Istana gunung pualam (Yujingsan) tempat tinggal Dewa Yang Mahamula (Yuanshi Tianzun).

Semua dewa yang tinggal di langit tingkat ke dua puluh sembilan hingga tiga puluh enam adalah nafas murni Dao (Daoqi), mereka adalah roh-roh abadi (shenxian) yang ketika menyebar adalah nafas (qi) dan ketika menyatu memiliki rupa dan wujud. Puncak kesempurnaan dari keabadian disebut keabadian emas (jinxian).

Sembilan Tingkat Neraka

Ketika mati semua manusia harus ke dunia bawah atau neraka (Diyu). Ada sembilan tingkat neraka (jiulei) yang masing-masing dipimpin oleh seorang Raja Bumi (Tuhuang). Masing-masing tingkat neraka terbagi menjadi empat neraka sehingga jumlah semuanya adalah tiga puluh enam neraka.

Ke sembilan tingkat neraka itu adalah:

Neraka Cemerlang (Serundi)
Neraka Permata(Gangsedi)
Neraka Linin (Shizhise Zedi)
Neraka Basah (Run zedi)
Neraka Padi Permata (Jinsu zedi)
Neraka Neraka Permata dan Besi (Jingangtie zedi)
Neraka Air (Shuizhi zedi)
Neraka Angin Besar (Dafeng zedi)
Neraka Gua Dalam Tanpa Cahaya dan Kejam (dongyuan wuse gangweidi)

Di dalam agama Dao, neraka juga disebut alam mahanegatif (Taiyin). Neraka itu gelap dan kelam, manusia hidup tidak dapat berkunjung ke sana, namun setiap orang mati arwahnya pasti ke neraka kecuali mereka mencapai kesempurnaan dan menjadi dewa. Neraka adalah tempat untuk memenjarakan arwah manusia jahat dan hantu serta jin. Neraka diperintah oleh Raja Lima Gunung (Wuyue) yaitu Dewa Gunung Timur Taishan (Dongyue Taishan zhishen) dengan gelar Kaisar Agung Hakim Kebajikan Manusia Dari Gunung Taishan (Taishan tianqi rensheng dadi) yang juga dipanggil Kaisar Agung dari Gunung Timur (Dongyue dadi).

Selain Dongyue dadi, saat ini banyak umat Dao yang juga menyembah Kaisar Agung Dari Gunung Fengdu (Fengdu dadi) sebagai penguasa neraka. Sesungguhnya Fengdu dadi adalah Ksitigarbha Bodhisattva (Dizang wang pusa) dari agama Budha yang juga disebut Raja Yanlo (Yanlo-wang). Neraka adalah satu dari enam tempat tujuan reinkarnasi. Jiwa di hukum di neraka atas kejahatan yang dibuat pada kehidupan sebelumnya. Fengdu dadi berjanji, Selama masih ada jiwa di neraka, dia tidak mau menjadi Budha. Karena selalu ada jiwa yang dihukum di neraka, maka dia tidak pernah mencapai nirwana.

Dewa Dewi Agama Dao

Agama Dao adalah agama Politeis yang menyembah dewa-dewi (Shenxian). Ada dewa yang tidak pernah menjadi manusia ada pula manusia-manusia yang mencapai kesempurnaan lalu menjadi dewa. Ada Dewa yang sudah ada sebelum langit dan bumi tercipta namun ada juga makluk yang menjadi dewa sesudah langit dan bumi ada. Ada dewa yang hidup abadi namun ada dewa yang hidup fana (bisa mati). Ada dewa yang memiliki wujud dan bentuk ada dewa yang tidak memiliki wujud. Ada dewa yang memiliki nafsu (berjenis kelamin, kawin dan melahirkan anak) ada dewa yang tidak memiliki nafsu. Ada dewa yang memiliki wujud dan nafsu, ada dewa yang memiliki wujud namun tidak memiliki nafsu ada juga dewa yang tidak memiliki wujud dan nafsu sama sekali. Di samping dewa-dewi asli agama Dao, ada juga dewa-dewi yang awalnya dipuja oleh agama lain kemudian juga di sembah sebagai dewa-dewi agama Dao. Secara umum dewa-dewi agama Dao dikelompokkan menjadi tiga yaitu:

Xiantian zhunshen atau dewa sebelum penciptaan langit dan bumi. Mereka adalah Xiantian zhenshen atau dewa abadi sebelum langit dan bumi. Termasuk dewa-dewa demikian adalah: Sanqing (tiga mahasuci), Sanguan (tiga penguasa), Siyu (empat Menteri) atau sida Tianwang (empat raja langit), Wuxing Qiyao Xingjun (penguasa lima planet dan dan tujuh bintang), shiling ershiba xiu (empat makluk gaib dua puluh delapan rasi bintang), dll.

Xianzhen atau makluk sempurna. Mereka adalah makluk-makluk Houtian shenming atau makluk-makluk yang mencapai kesempurnaan setelah ada langit dan bumi. Termasuk dewa-dewa demikian adalah: Sanmao zhenjun (tiga mao penguasa atau tiga dewa mao), Baxian?? (delapan manusia abadi atau delapan dewa), dll.

Dewa-dewi agama lain yang diterima oleh Umat Dao sebagai dewa-dewi mereka. Termasuk dewa-dewa demikian adalah: Menshen (dewa pintu), Zaoshen (Dewa dapur), Caishen (dewa keberuntungan), Tudi (dewa bumi), Mazu (Dewi leluhur), Guan Gong (dewa perang), Guanyin (dewi welas asih), Fengdu dadi (Kaisar Agung Dari Gunung Fengdu) dll.

Sanqing (tiga mahasuci) adalah dewa-dewa yang kastanya paling tinggi, sementara Yuanshi Tianzun (mahadewa mahamula) yang paling tinggi di antara Sanqing. Di bawah Sanqing adalah Sanguan (tiga penguasa) dan Siyu (empat Menteri) atau sida Tianwang (empat raja langit).

Tianshi Dao

Dao artinya jalan. Ada berbagai jenis jalan, ada jalan bercabang ada jalan yang menuju ke berbagai tempat, namun hanya jalan tunggal yang menuju satu tempat tujuan saja yang disebut Dao. Di dalam agama Tiongkok kuno dan agama Khonghucu, Dao digunakan untuk menyebut jalan Tuhan (Tiandao), namun Laozi melalui buku Dao De Jing memberi arti baru kepada kata Dao. Dao ada yang ada karena diriNya ada (Ziran). Dao adalah bunda dari alam semesta, Dao adalah Tuhan.

Pada tahun 142 Zhang Daoling menerima wahyu dari Laozi (penulis kitab Dao De Jing) di gunung Heming untuk menyelamatkan dunia dengan mendirikan sebuah negara yang rakyatnya adalah orang-orang terpilih. Wahyu dari Laozi kepada Zhang Daoling tercatat di dalam Kitab Kebenaran Taishang louzun (Taishang laozun zhenjing). Selain menerima wahyu dia juga menerima kesaktian untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan menaklukkan berbagai roh jahat dengan lingbao (jimat) atau kertas hu, sehelai kertas yang ditulisi mantera. Dengan gelar Tianshi (nabi Tian) dia menjadi perantara dewa-dewi dan manusia. Agama yang didirikannya disebut Tianshi Dao atau Wudao mijiao artinya Agama Dao Lima Gantang Padi karena setiap orang yang ingin bergabung harus menyumbang lima gantang padi.

Kou Qianzhi (365-448) salah satu penerus agama Dao aliran Tianshi Dao yang hidup di kerajaan Wei utara mendapat wahyu dari dewa untuk menyusun tata ibadah dan peraturan anggota. Dengan lahirnya wahyu baru tersebut, maka penekanan ajaran Dao pun beralih dari jimat (lingbao) ke upacara penyembahan dewa-dewi.

Shangqing Dao

Wei Huacun (251-334) seorang wanita, menerima wahyu dari para dewa dan mencatatnya di dalam kitab Batu Giok Istana Kuning Mengenai Alam Murni Yang Maha Tinggi (Shangqing Huangding Neiqing Yujing). Dia mengajarkan bahwa Dao adalah bunda berlaksa ada dan hadir di dalam segala ada dalam bentuk roh-roh. Kesempurnaan adalah ketika manusia manunggal dengan Dao. Ada roh-roh yang menjaga alam semesta ada pula roh-roh yang menjaga organ tubuh manusia. Apabila manusia dapat hidup harmonis dengan roh-roh di dalam tubuhnya maupun di alam semesta ini, maka dia akan mencapai kesempurnaan atau hidup abadi manunggal dengan Dao. Menurutnya, meditasi adalah cara yang paling efektif untuk mencapai kesempurnaan.

Ajaran Wei Huacun di kemudian hari dikenal dengan nama Dao Yang Maha Murni (Shangqing Dao). Aliran ini menekankan meditasi sebagai cara untuk mencapai kesempurnaan. Setelah Wei Huacun meninggal aliran Shangqing disebarkan oleh Yangxi (330-386) yang menerima wahyu dari Wei Huacun yang telah menjadi dewi untuk meneruskan ajarannya.

Aliran Shangqing mencapai masa kejayaannya di bawah pimpiman Tao Hongjing (456-536) yang tinggal di gunung Maoshan. Dia menulis kitab Shangqing yang berisi silsilah pewarisan pimpiman Shangqing dan sistem kasta dewa-dewi yang disembah umat Dao dan mendirikan laboratorium untuk menemukan obat panjang umur. Sama seperti aliran Tianshi, aliran Shangqing juga menjadikan Dewa mahabajik (Daode Tianzun) atau Dewa Yang Mahatua (Taishang Laozun) sebagai dewa tertinggi yang paling disembah.

Lingbao Pai

Sekolah Permata Jiwa (Lingbao Pai) adalah aliran Dao yang berkembang sejak dinasti Jin (265-420) dan Song (420-479). Aliran ini menyatu dengan aliran Shangqing pada pemerintahan dinasti Tang (618-907). Aliran ini terbentuk ketika Ge Chaofu () pada tahun 397-401 mempopulerkan kitab Lima Jimat (Wufujing) yang merupakan ajaran-ajaran yang diwarisinya dari pendahulunya Gehong (284-364) dan Ge Xuan (164-244) yang ahli alkimia (ilmu kimia kuno).

Aliran Lingbao menyatukan ajaran Tianshi Dao, Shangqing Dao dan agama Budha. Namun sayang, karena pemahaman yang kurang baik, maka banyak doktrin-doktrin agama Budha yang tidak dipahami dengan baik sehingga walaupun banyak istilah agama Budha yang digunakan, namun penafsirannya sama sekali berbeda dengan aslinya. Doktrin agama Budha yang dipakai secara luas adalah ajaran reinkarnasi.

Kitab suci agama Dao disebut Daozang (Rahasia Dao). Lu xiujing (406-477) adalah orang pertama yang melakukan kanonisasi kitab-kitab suci agama Dao. Ia mebagi Daozang menjadi dua:

Kitab Besar
Kitab Kecil

Kitab Besar dikelompokkan menjadi tiga gua (Sandong):

Dongzhenbu – Bagian Gua Kenyataan
Dongxuanbu – Bagian Gua Dalam
Dongshenbu – Bagian Gua Roh

Masing-masing gua terdiri dari 12 bab yaitu:

Bab Utama (Benwen li)
Bab Lambang atau Jimat Dewa (Shenfu li)
Bab Penjelasan (Yujue li)
Bab Diagram dan Gambar (Lingtu li)
Bab Sejarah dan Silsilah (Pulu li)
Bab Pengajaran Berharga (Jielu li)
Bab Tata Ibadah (Weiyi li)
Bab Pantang dan Tabu (Fangfa li)
Bab Latihan-latihan (Zhongshu li)
Bab Sejarah (Jizhuan li)
Bab Puji-Pujian (Zansong li)
Bab Hari-Hari Besar (Biaozou li)

Kitab Kecil dikelompokkan menjadi:

Misteri Agung (Taixuan) – Dao De Jing
Kedamaian Agung (Taiping) - Taiping Jing
Kemurnian Agung (Taiqing) – Taiqing Jing
Kebenaran Yang Satu (Zhengyi) – Shangqing dan tata ibadah Tianshi Dao

Berbeda dengan Tianshi Dao dan Shangqing Dao yang menjadikan Dewa Yang Mahatua (Taishang Laozun) sebagai dewa tertinggi yang paling disembah, maka Lingbao pai menjadikan Dewa Yang Mahamula (Yuanshi Tianzun) yang menciptakan alam semesta sebagai dewa utama yang paling disembah.


sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=514828088600470&set=a.451274724955807.1073741825.100002198507840&type=3&theater

Legenda Chan Cu atau Kodok Berkaki 3



Kodok berkaki tiga boleh jadi simbol pembawa keberuntungan dalam hal mencetak uang. Ada sepasang mitos yang dihubungkan dengan asal-muasal dari kepercayaan muasal dari kepercayaan ini. Bahkan menurut mitologi Tiongkok kodok berkaki tiga konon hanya terdapat di bulan, yang berhasil menelannya selama gerhana. Akibatnya, terkadang ia disebut mampu melambangkan yang tak tercapai. Perluasan dari mitos ini adalah bahwa istri dari salah satu Delapan Dewa Keabadian mencuri minuman keabadian dari Ratu Barat, Hsi Wang Mu. la terbang ke bulan dan di sana ia langsung berubah menjadi kodok! Namun setelah mencicipi minuman itu, tanpa sengaja ia telah memperoleh keabadian dan ketika ia sedang mengalami proses perubahan menjadi kodok, ia memohon pengampunan. Dewa-dewa yang berbelas kasihan segera luluh dan hanya bagian atas tubuhnya yang diubah menjadi makhluk yang buruk. Sebagai pengganti bagian belakang tubuhnya yang hilang, para dewa mengizinkan untuk mempertahankan ekornya. Maka jadilah ia kodok berkaki tiga.

Dalam legenda terkait, mitos kodok berkaki tiga diumpani dengan koin emas oleh Lui Hai, salah satu dari 8 Dewa Keabadian, dan Menteri Negara yang hidup selama abad kesepuluh masehi. Diyakini mahir dalam ilmu aliran Tao dan memahami kekuatan kodok untuk menarik kekayaan dan kemakmuran. Setelah lama mencari-cari makhluk mistik ini, Lui Hai baru menemukannya sedang bersembunyi dalam-dalam di dasar sumur. Menyadari kegemaran kodok itu akan uang, Lui Hai mengumpani makhluk itu supaya ke luar dari dasar sumur. Sebagai umpannya ia menggunakan benang merah yang mengikat koin emas. Kemudian lahiriah lukisan anak kecil yang sedang memancing kodok berkaki tiga dengan koin yang diikat pada benang merah yang panjang, dan ia dikenal sebagai lambang bermakna bahwa kekayaan akan datang menjelang. Legenda kodok berkaki tiga sebagai simbol kekayaan dengan demikian berasal dari perlambangan populer Lui Hai, yang dilukiskan dengan sebelah kakinya bertumpu pada kodok itu sementara sebelah tangannya menggenggam rentangan benang merah di mana tergantung koin emas. Gambar itu dipercaya sangat membawa berkah dan sangat kondusif untuk menarik keberuntungan. Sejak itu kodok berkaki tiga dengan koin di dalam mulutnya telah menjadi simbol untuk menarik kekayaan dan kemakmuran, Selama kurun waktu yang lama tegenda itu terus meluas dan dewasa ini, simbol hiasan kodok berkaki tiga menunjukkan bahwa ia tengah menduduki setumpuk koin dan logam emas dan selalu menggigit koin di dalam mulutnya. Lui Hai, Dewa Keabadian secara misterius lenyap dari gambar itu!

Kodok disebut chan-chu 蟾蜍 atau lai-ha-ma 癞蛤蟆. Telur katak dipercaya jatuh dari langit turun bersama embun, karena itu kodok disebut tian-ji 天鸡 atau “ayam dari langit”, beberapa menerjemahkannya menjadi ayam surgawi.

Di Tiongkok kuno, katak dikaitkan dengan umur panjang, yang bisa mencapai 30 – 40 tahun, bahkan konon, ada kodok yang bisa hidup beberapa ribu tahun bahkan 10.000 tahun . Pada katak berumur 10.000 tahun ini akan muncul gumpalan di kepala menyerupai tanduk yang konon, gumpalan itu menjadi salah satu dari 5 eliksir keabadian.

Selain itu kodok di Tiongkok yang merupakan masyarakat agraris, kehadirannya terkait dengan hujan atau dipercaya mampu mengundang hujan. Hal ini dikaitkan dengan yin dan bulan, seperti gagak yang menjadi simbol matahari. Kodok di bulan ini berhubungan dengan legenda Dewi Bulan Chang’e 嫦娥 istri dari pemanah Houyi 后羿 (circa 2500 BC) yang mendapatkan obat keabadian dari Xiwangmu 西王母. Chang’e mencuri dan meminum obat tersebut, sehingga tubuhnya menjadi ringan dan melayang ke bulan. Ada versi kisah yang mengatakan ia dihukum dengan berubah menjadi kodok yang menumbuk obat di bulan, yang mana bayangannya terpantul dipermukaan bulan yang tampak dari bumi.

Dalam masyarakat Tanka yaitu suku minoritas di Tiongkok Selatan yang hidup di atas perahu, ada upacara menarik yang diadakan pada waktu mid-autumn / zhong-qiu yaitu tanggal 15 bulan 8 penanggalan imlek. Pada saat itu untuk menghormati pengantin baru, pohon kayu manis diletakkan di depan pintu pengantin wanita dengan seekor kodok dan kelinci di bawahnya. Tirai ranjang diturunkan, lilin dinyalakan di sampingnya, dan ruangan ini disebut “istana kodok” . Kemudian seorang wanita tua berperan sebagai Xiwangmu, naik ke panggung yang mengarah ke depan perahu, di depannya ada makanan simbol keberuntungan seperti; kacang tanah, biji labu, kue kayu manis, teh dan arak, dll. Setelah semua keluarga berkumpul, pasangan pengantin muncul mengenakan baju pengantin mereka, mereka lalu masuk ke kamar pengantin yang disebut “istana bulan” dan berhenti sesaat di pintu masuk yang disebut “gerbang balairung bulan”. Lalu wanita tua itu menggumamkan pesan-pesan bijaksana, dan pergi, sementara itu pasangan pengantin berpelukan dan dibawa ke “istana kodok” .

Perayaan pertengahan musim gugur atau zhong-qiu ini merupakan perayaan bulan yang dirayakan segenap orang Tionghoa, dan tradisi unik yang diceritakan di atas merupakan ritual bulan, karena perkawinan dianggap penuh dengan simbolisme bulan.

Kisah lain mengenai simbol kodok yang kemudian terkenal menjadi perangkat fengshui terkait dengan rejeki adalah tentang Liu Hai 刘海. Liu Hai adalah seorang menteri dari abad ke 10 M, yang mempunyai kodok berkaki tiga yang dapat membawanya ke manapun ia ingin pergi. Namun kodok itu sering melarikan diri ke sumur terdekat, namun Liu Hai tidak pernah kesulitan memancingnya keluar, dengan cara memancingnya dengan umpan sebaris koin emas direnteng dengan pita. Lukisan Liu Hai dengan satu kaki menginjak kodok dan membawa serenteng coin, dianggap lukisan yang membawa keberuntungan. Dan kodok berkaki tiga (kadang menggigit koin) merupakan simbol penghasil rejeki.

Versi kisah Liu Hai yang lain mengatakan bahwa kodok ini tinggal di dasar kolam yang dalam dan suka menyemburkan racun untuk melukai orang. Dan Liu Hai memancing kodok ini dengan koin emas keluar lalu menghancurkannya. Kisah ini melambangkan bahwa keserakahan manusia akan uang dapat menghancurkan mereka.

Zhang Guolao 张果老, salah satu dari delapan dewa juga kadang digambarkan menunggang katak raksasa. Dan salah satu bentuk huruf kuno ada yang disebut kedou-zi 蝌蚪字 atau huruf kecebong yang mirip dengan bentuk kecebong yang sedang berenang di air.

Kodok juga dipercaya memiliki nilai medis yang tinggi, jika ada seseorang yang kena bisul, untuk menyembuhkannya disuruh memakan katak. Racun kodok yang dikeringkan dipercaya mampu menyembuhkan panas dalam, meredakan sakit, mengempiskan bengkak, serta menghindari kanker. Konon kulit katak juga bisa mengobati berbagai kanker, sakit hati kronis dan pencernaan. Terlebih lagi katak berusia 10.000 tahun yang ditangkap lalu dikeringkan saat duanwu (tanggal 5 bulan 5 penanggalan imlek) yang dianggap hari yang berbahaya atau jelek, dianggap memiliki kekuatan gaib. Dengan menggores tanah memakai kaki katak tersebut, akan muncul mata air, dan membawa katak tersebut ke medan perang mampu menghindarkan pembawanya dari serangan senjata tajam, bahkan mampu membuat panah musuh berbalik arah.

Konon di Tiongkok waktu itu dikisahkan seorang panglima yang menunggang kodok berkaki tiga dan setiap kali kodok ini bersuara mulutnya di penuhi dengan koin dan setelah itu banyak orang menganggap panglima ini salah satu dewa kekayaan Tiongkok selain Wu Lu Chai Shen (5 Jalur dewa kekayaan). Kodok ini kita namakan sebagai Chan Chu yang dipercayai jika Anda menempatkan benda ini didalam rumah, terutama di sektor Sheng Qi atau dekat dengan meja kasir, meja kerja, dsb dapat membawa kekayaan buat Anda. Penempatan kodok ini harus mengarah ke dalam rumah dan biasanya diletakkan di sektor pojok kanan atau kiri rumah.


sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=515300435219902&set=a.451274724955807.1073741825.100002198507840&type=3&theater

Rabu, 21 Agustus 2013

40 Macam Objek Meditasi Samatha Bhavana

Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda), yaitu:
1. Pathavi kasina = wujud tanah
2. Apo kasina = wujud air
3. Teja kasina = wujud api
4. Vayo kasina = wujud udara atau angin
5. Nila kasina = wujud warna biru
6. Pita kasina = wujud warna kuning
7. Lohita kasina = wujud warna merah
8. Odata kasina = wujud warna putih
9. Aloka kasina = wujud cahaya
10. Akasa kasina = wujud ruangan terbatas

Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran), yaitu :
1. Uddhumataka = wujud mayat yang membengkak
2. Vinilaka = wujud mayat yang berwarna kebiru-biruan
3. Vipubbaka = wujud mayat yang bernanah
4. Vicchiddaka = wujud mayat yang terbelah di tengahnya
5. Vikkahayitaka = wujud mayat yang digerogoti binatang-binatang
6. Vikkhittaka = wujud mayat yang telah hancur lebur
7. Hatavikkhittaka = wujud mayat yang busuk dan hancur
8. Lohitaka = wujud mayat yang berlumuran darah
9. Puluvaka = wujud mayat yang dikerubungi belatung
10. Atthika = wujud tengkorak

Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan), yaitu :
1. Buddhanussati = perenungan terhadap Buddha
2. Dhammanussati = perenungan terhadap Dhamma
3. Sanghanussati = perenungan terhadap Sangha
4. Silanussati = perenungan terhadap sila
5. Caganussati = perenungan terhadap kebajikan
6. Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung atau para dewa
7. Marananussati = perenungan terhadap kematian
8. Kayagatasati = perenungan terhadap badan jasmani
9. Anapanasati = perenungan terhadap pernapasan
10. Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana atau Nirwana

Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas), yaitu :
1. Metta = cinta kasih yang universal, tanpa pamrih
2. Karuna = belas kasihan
3. Mudita = rasa simpati
4. Upekha = keseimbangan batin

Satu aharapatikulasanna (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikkan)

Satu catudhatuvavatthana (satu analisa terhadap keempat unsur yang ada di dalam badan jasmani)

Empat arupa (empat perenungan tanpa materi), yaitu :
- Kasinugaghatimakasapaññatti = obyek ruangan yang sudah keluar dari kasina
- Akasanancayatana-citta = obyek kesadaran yang tanpa batas
- Natthibhavapaññati = obyek kekosongan
- Akincaññayatana-citta = obyek bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan


Sumber : FB Rinda Lim https://www.facebook.com/notes/rinda-lim/40-macam-objek-meditasi-samatha-bhavana/10151487019492134

Senin, 05 Agustus 2013

Dukungan saat sulit by Ida S Widayanti

  •  Seorang anak gadis berusia 22 tahun merasa putus asa. Hanya dalam semalam ia merasakan dunianya yang semula luar biasa menjadi berantakan. Ia mendapat informasi bahwa tunangannya berkhianat. Padahal, tinggal beberapa minggu lagi mereka akan menjalani prosesi pernikahan. Ia berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Terbaring lemah di tempat tidurnya tanpa gairah hidup. Ia tak mau makan dan minum, bahkan tak mau membuka pintunya. Tidak ada seorangpun yang dapat membantu dia keluar dari problem besar yang sedang dihadapinya. Ayahnya kurang berkomunikasi, namun ia paham apa yang sedang terjadi dengan putri bungsunya itu. Ia sangat ingin membantu meski kebingungan bagaimana cara memulainya. Ini tentu tidak akan menyenangkan. Ia berusaha memberi dukungan untuk masa depan anaknya tapi dengan cara yang tidak menyinggung perasaannya. Sang ayah mengambil cuti satu hari dan mencoba menjalankan rencananya. Pagi hari sang ayah menyiapkan baki berisi sarapan kesukaan putrinya dan majalah favoritnya di depan pintu kamarnya. Ia mengetuk pintu dengan nada riang seolah tidak ada masalah. ketika pintu tak juga dibuka, ia menyetel lagu kesukaan anak gadisnya saat SMA yang dulu sering ia suruh matikan. Sang anak penasaran, akhirnya ia mengintip dibalik pintu dan menolaknya dengan alasan tidak lapar. Sang ayah lalu mencoba cara lain, ia dengan ramah meminta ijin untuk memeriksa air conditionair-nya. Putrinya tak bisa menolak. Setelah memeriksa alat yang tak ada masalah itu, sang ayah mulai mengajaknya bercakap-cakap. "sayang, ayah sangat sedih dengan apa yang menimpamu. Ayah berharap bisa melindungimu dari dunia dan menghilangkan rasa sakitmu. Ayah hanya ingin kamu tahu ayah disini untukmu, kalau kamu membutuhkan ayah." Kata-kata ayahnya itu membuatnya luruh dan menangis. Sang ayahpun memeluknya. Ia mencurahkan segala kesedihannya. Sebelumnya mereka tak sedekat itu. Ayahnya bertukar cerita tentang masa lalunya yang pernah patah hati sebelum menikahi ibunya. Ia juga menceritakan liku-liku sebelum menjadi pengusaha yang sukses. Kisah-kisah yang diceritakan tersebut membuat anaknya merasa lebih baik dan berfikir jernih. Lalu anaknya dengan tegas membatalkan pernikahannya. Ia memutuskan untuk kuliah dan berusaha meraih cita-citanya. Beberapa tahun kemudian ia berhasil meraih gelar sarjana dari sebuah universitas dengan predikat sangat memuaskan. Pada pidato singkatnya ia menuturkan, "Aku rasa, cinta ayahkulah yang ada untukku selama keterpurukan diriku yang membantu menuntun aku pada kesuksesan ini. Terimakasih dan aku mencintaimu, ayah dari lubuk hati yang terdalam." Kisah ini diceritakan dalam sebuah buku yang ditulis oleh seorang ibu dan anak perempuannya, tentang bagaimana pentingnya dukungan disaat-saat yang sulit bagi anak. Jika sang ayah membiarkan anaknya disaat yang menentukan itu mungkin keadaannya akan lain. Tapi yang dilakukannya justru berempati dan mendukungnya, juga meyakinkan bahwa dirinya sangat mencintainya. Itulah yang membuat anaknya mampu memilih keputusan yang tepat untuk masa depannya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan kepadaa kita dalam menjalankan amanah sebagai orang tua. Aaaamiiin ya rab al alamin Suara Hidayatullah Juli 2013, Jendela keluarga, hal. 67

Nasihat Penguasaan Emosi

Ada tiga latihan yang patut kita usahakan dalam keseharian kita : " SABAR, TENANG, SENYUM "

↣ SABAR ,
Pada saat EMOSI kita sedang MENINGGI..apapun yang menjadi penyebabnya,..Janganlah kita MELEPASKAN suara atau sikap yang merupakan EKSPRESI dari KEMARAHAN..Yang mana akan menyakiti HATI orang lain atau menjadi KARMA negatif....serta MERUSAK nama baik kita sebagai orang yang tidak dapat menguasai EMOSI...

↣ TENANG ,
yaitu sikap yang selalu DATAR dan SEJUK dalam SITUASI apa pun...baik LISAN maupun GERAKAN..,KETENANGAN merupakan CERMIN kuatnya KESABARAN...Obses, resah, gelisah dan kepanikan adalah cermin tiadanya KETENANGAN...

↣ SENYUM ,
yaitu sikap BERSAHABAT serta cinta kasih yang TULUS dari lubuk HATI..Terhadap siapa saja yang bertatap muka dengan kita, bertemu dengan kita. Kita tidak perlu berlatih untuk bersikap dingin, tidak peduli dan cuek.. Karena kita sudah sangat berbakat untuk hal itu..Akan tetapi untuk TERSENYUM, PEDULI dan RAMAH..mungkin kita akan belajar sepanjang HIDUP kita...

STS (sabar, tenang, senyum) ini, akan banyak membawa KEBAHAGIAAN serta KEBAIKAN dalam HIDUP kita.


sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=491037557644710&set=a.346443935437407.81129.346439915437809&type=1&theater

Asal Usul Perayaan Cioko / Ulambana

Setiap tahun pada bulan 7 tanggal 15 (Cit Gwe Cap Go) penanggalan Imlek, Vihara-vihara atau Kelenteng banyak mengadakan Upacara Ulambana. Orang-orang pada umumnya mengenalnya dengan nama Sembahyang Rebutan (Cioko). Perayaan Ulambana ini disebut juga sebagai Hari Raya Setan (Ghost Festival).

Namun sebutan yang sebenarnya Upacara Ulambana ini adalah upacara sembahyang leluhur. Konon, pada Hari Raya Tiong Gwan Cwe, adalah hari di mana Pintu Gerbang Neraka dibuka.

Untuk menghindari agar ayah ibu yang telah meninggal dunia tidak mengalami penderitaan Neraka, maka dilaksanakanlah sembahyang kepada roh-roh, dewa dan hantu secara besar-besaran, mengharap agar roh-roh halus jangan menganiaya ayah ibu yang telah meninggal tersebut.

Hari Raya Tiong Gwan Cwe, Hari Raya Ceng Beng, dan Hari Raya Tang Ce adalah 3 Hari Raya Hantu di kalangan kita orang-orang Tionghoa.

Di daerah-daerah, propinsi-propinsi di Tiongkok, Taiwan, Hongkong, Macau, sangat menaruh perhatian kepada 3 Hari Raya ini. Apalagi pada Hari Raya Tiong Gwan Cwe ini, melaksanakan upacara sembahyang dengan sangat megah dan hikmat. Ini adalah perwujudan BAKTI kepada orang tua.

Versi Tiongkok

Orang sering menyamakan antara sembahyang qiyue ban 七月半 yang berkaitan dengan GuiJie 鬼节 ( festival hantu ) atau sembahyang rebutan yang merupakan tradisi "kelenteng" dengan sembahyang ulambana versi Buddha. Hal ini ada benar dan ada salahnya, tergantung darimana kita menilainya. Tapi sepanjang yang saya tahu, tradisi penyebrangan roh itu tidak terjadi begitu saja, adanya pengaruh Buddhism (disamping Taoism ) yang kemudian berkembang menjadi Buddhis Mahayana Tiongkok yang menyerap budaya setempat juga yang nantinya akan memberikan pula warna bagi tradisi sembayang rebutan di
kelenteng.

Sembahyang pada bulan tujuh ini adalah untuk memberi kesempatan bagi para arwah dan roh-roh di neraka dilepaskan ke dunia untuk mendapatkan 'liburan' dan bebas dari alam sengsara atau kita katakan saja kembali ke tempat yang layak. Oleh karena itu pada momen tersebut, orang kelenteng mengadakan upacara untuk memberi makan mereka dan upacara ritual penyebrangan arwah. Hal ini ditujukan untuk mengembangkan welas asih tidak hanya kepada sesame manusia atau binatang tetapi juga kepada mahluk-makhluk yang tak terlihat.

Tradisi ini sebetulnya sudah dikenal semenjak jaman sejarah purba Tiongkok tapi waktu perayaan tidak selalu sama, tergantung keinginan penguasa atau orang yang ingin mengadakan upacara itu.

Dalam kitab Liji 礼记 disebutkan bahwa upacara ini disebut Fuli 复礼 sedangkan maksud Fu disini adalah memanggil roh orang yang meninggal atau disebut pula Zhao Hun 招魂 . Pada upacara ini, arwah orang yang sudah meninggal, biasanya leluhur kita, diundang untuk kembali dan dihantar menuju ke tempat asal muasal leluhur tersebut berasal. Kitab Li Ji mengatakan bahwa tindakan ini adalah suatu perwujudan untuk menunjukkan rasa cinta kasih dan bakti.

Upacara ini berkembang dimasa dinasti Shang , dimana ritual ini nantinya akan dikaitkan dengan San Guan Da Di 三官大帝 ( penguasa tiga alam) : Penguasa langit yang dianggap memberi rejeki, penguasa bumi yang dianggap menebus dosa, dan penguasa air yang bertindak untuk mengatasi bencana.

Filosofi Tionghua yang berbasiskan YinYang percaya bahwa manusia hidup adalah bersifat Yang dan arwah-arwah adalah bersifat Yin. Akan tetapi arwah gentayangan atau roh-roh yang tidak memiliki keturunan untuk menyembahyanginya tidak akan kembali ke Yin murni, akan tetapi menderita di alam arwah dan bersifat Yin palsu.

Oleh karena itulah maka diadakan upacara ini, dimana pada pertengahan tahun dimana terjadi peralihan antara Yin dan Yang maka adalah suatu tempo dimana ada kesempatan agar roh-roh tersebut kembali dari dunia Yin masuk kembali ke dunia Yang untuk disembahyangi dan diseberangkan menuju alam Yin murni.

Penyeberangan itu sendiri sebenarnya adalah suatu pelimpahan jasa baik dari keturunan yang masih hidup kepada arwah leluhurnya. Jasa baik dari keturunan itu dilakukan antara lain dengan memberi makan dan ataupun bantuan lainnya kepada orang-orang kurang mampu yang tinggal disekitarnya. Oleh karena itu tidak heran, bahwa pada kesempatan acara tersebut maka di Indonesia ini pada khususnya ada kebiasaan untuk bagi-bagi beras atau makanan.

Ritual ini merupakan bagian dari ritual-ritual yang berkaitan dengan musim. Seperti kita kenal bahwa tradisi Tionghua merayakan ShangYuan 上元 (upacara capgomeh) , Zhong Yuan 中元 dan Xia Yuan 下元 Acara sembahyang rebutan ini sebetulnya adalah Zhong Yen Jie atau sering disebut GuiJie, masa peralihan dari semester awal tahun ke semester akhir tahun, dimana terjadinya perubahan Yang menjadi Yin.

Pada saat itu dipercaya bahwa dewa pintu neraka purba yaitu Shen shu 神荼 dan YuLu 郁垒 ( jangan dibaca ShenTu YuLei ), melepaskan roh-roh yang disiksa di alam bawah untuk masuk ke dunia Yang , dimana mereka memperoleh istirahat dan penghiburan, serta keringanan dosa melalui suatu upacara ZhaoHun atau sekarang sering disebut ChaoDu 超度. Perayaan ini biasanya dilakukan dalam periode 1 bulan tersebut, oleh karena itu di Singapura dan manca negara dikenal dengan Gui Jie / Ghost Month (bulan hantu).

Pada tahun sekitar 300 SM yaitu pada masa dinasti Jin, maka terjadi sinkretisme upacara ini dengan Buddhism, dimana berdasarkan kitab Buddha Mahayana Foshuo YuLanPen Jing 佛说盂兰盆经 ( Ulambana Sutra). Ada sedikit perbedaan kepercayaan tentang konsep karma pada tradisi Buddhism Mahayana dengan Buddhism Theravada, dimana dalam Theravada karma hanyalah bisa ditanggung oleh dirinya sendiri, tetapi dalam Buddhis Mahayana maka orang lain, terutama keluarga, bisa melakukan suatu upaya untuk meringankan karma dari arwah leluhurnya yang telah meninggal dengan gaya bantuan para bodhisatva.

Konsep karma dalam Buddhism Mahayana ini berkaitan dengan konsep Taoism yaitu chenfu 承负, yaitu bahwa karma dari leluhur akan menurun kepada anak cucunya, spt pada ungkapan rakyat tionghua : "Leluhur berbuat kebajikan maka anak cucu akan makmur jaya".

Secara teknis, maka upacara dari sembahyang rebutan ini biasanya dipimpin oleh seorang Daoshi (Toosu) atau kalau tidak oleh bikkhu Mahayana Tiongkok. Ciri khas uparacara ChaoDu adalah adanya pemasangan Zhao Hun Fan 招魂幡 yaitu bendera pemanggil roh dan ada simbol-simbol tertentu didalamnya. Selain itu juga terkadang ada Nai He Qiao 奈何桥 yaitu upacara utk menyeberangi sebuah jembatan sebagai suatu simbol untuk menyeberangkan dari dunia fana ke dunia baka.

Dalam upacara tersebut juga diset suatu altar persembahan makanan- makanan yang disebut GuTai 孤台 yang nantinya dalam upacara dipersembahkan melalui suatu tradisi Songjing (pembacaan keng) yang biasanya adalah kitab yang dibacakan ada kaitannya dengan TaiYi Jiuku Tianzun, yaitu Tianzun Welas Asih yang memang bertugas untuk mengurusi para arwah gelandangan dan arwah gentayangan.

Beliau dengan kekuatan hati Welas Asih yang tiada tara senantiasa mengayomi para arwah tsb. Atau dalam cara Buddhism Nahayana Tiongkok dibacakan Amitabha Sutra dan Ulambana Sutra ( CMIIW). Saya pernah mengikuti upacara Ulambana versi Mahayana Tiongkok, dan ternyata memang ada bendera, patung kertas GuiWang atau TianShi, perahu kertas untuk menyebrangkan arwah dan jembatan kertas pula.

Kebiasaan atau tradisi lainnya yang khas serta mengandung makna filsafat serta membedakan dengan tradisi lentera pada saat YuanXiao atau CapGo me adalah adanya Fang He Deng 放河灯 yaitu tradisi melepas lentera terapung di sungai yang mengalir sebagai simbolisme bahwa roh tersebut diberi sinar terang untuk menemukan jalannya menuju sang Asal yg disimbolkan dengan samudera (semua sungai menuju ke lautan).

Prinsip pelepasan lentera ini berkaitan dengan prinsip YIN palsu ( maksudnya roh yang gentayangan ) melalui YANG ( disini adalah dunia manusia ) kemudian kembali ke YIN asli ( alam kematian sesungguhnya ). Karena filsafat itulah maka tradisi FULI atau ZhaoHun atau juga yang kita sebut ChaoDu harus melalui proses setan-setan atau roh-roh gentayangan dilepas melalui alam manusia atau alam YANG agar bisa kembali ke alam YIN.

Pada tradisi Capgome yang mana bersifat merayakan perayaan bersifat Yang atau positif, maka lentera digantung. Sedangkan pada perayaan ZhongYuan atau GuiJie itu bersifat negatif, maka lentera dilepas di sungai atau danau.

Versi Buddhis Mahayana

Ada sebuah Kitab Suci Budhis yang berjudul Yi Lan Pen Jing, di dalam Kitab tersebut ada tercatat sebuah peristiwa :

Pada zaman dulu, ada seorang Bikkhu yang bernama Maha Moggalana. Ia merupakan salah seorang dari 10 Murid Utama Sang Buddha Gautama. Maha Moggalana adalah murid Sang Buddha dengan kesaktian no. 1 (di bawah Sang Buddha).

Maha Moggalana pada suatu ketika, dengan mata bathinnya melihat ibunya yang telah meninggal dunia, berjalan bersama dengan sekelompok hantu kelaparan. Dengan maksud menolong ibunya, lalu ia mengisi nasi ke dalam sebuah mangkok, untuk memberi makan ibunya. Siapa sangka, begitu nasi akan disuapkan ke mulut ibunya, nasi tersebut berubah menjadi bara api yang panas membara. Maha Moggalana dengan menggunakan kesaktiannya mencoba berkali-kali, tapi setiap kali hendak masuk ke mulut ibunya, nasi tersebut berubah menjadi bara api.

Maha Moggalana terkejut luar biasa, lalu kembali dan melapor kepada Sang Buddha Sakyamuni. Sang Buddha berkata kepadanya : "Dosa ibu kamu terlalu berat, hanya dengan kekuatan kamu 1 orang, tidak bisa membebaskan penderitaan ibu kamu!".

Lalu Maha Moggalana berlutut di lantai, memohon kepada Sang Buddha sambil berlinang air mata : Mohon Buddha memberi petunjuk, bagaimana baru bisa menolong ibu saya agar terbebas dari lautan penderitaan, dan tidak bersama dengan para hantu kelaparan itu lagi.

Melihat usaha Maha Moggalana yang bersungguh hati ingin berbakti dan membalas budi orang tuanya, maka dengan penuh Maha Maitri Karuna (Welas Asih) dan Maha Prajna (Bijaksana), Buddha Sakyamuni memberikan petunjuk kepada siswanya agar ia memberikan dana paramita kepada Para Arya Sangha dan setelah itu memohon Arya Sangha mengadakan suatu upacara guna menolong meringankan penderitaan ibundanya.

Sang Buddha menjawab : Mengenai hal ini, membutuhkan kekuatan para Bikkhu di 10 penjuru, begitu sampai Hari Raya Tiong Gwan Cwe ini, mewakili orang tua dari 7 generasi, dan orang tua sekarang yang berada dalam bencana /malapetaka, mempersiapkan bermacam-macam sayur dan buah-buahan, untuk dipersembahkan kepada Yang Berkebajikan di 10 penjuru, setiap orang berbuat kebajikan, di saat ini barulah bisa membebaskan penderitaan semua hantu kelaparan.

Maha Moggalana merasa amat gembira dan dengan penuh rasa bakti segera melaksanakan petunjuk Gurunya. Ia mempersembahkan dana paramita dari hasil Pindapatta-nya kepada para Sangha, dan kemudian memohon para Arya Sangha mengadakan suatu upacara penyaluran jasa untuk menolong ibundanya.

Setelah menerima dana paramita dari Arahat Moggalana, para Arya Sangha kemudian mengadakan upacara dengan membaca mantra, dharani dan ayat-ayat kitab suci, yang mana semua jasa dan pahala dari upacara ini disalurkan kepada ibunda Arahat Moggalana dan juga kepada makhluk-makhluk lain di tiga alam sengsara.

Sewaktu upacara dilaksanakan, terjadilah berbagai keajaiban, api neraka menjadi padam, segala penderitaan berubah menjadi kegembiraan dan kedamaian, makhluk-makhluk di alam Neraka setelah menerima getaran suci hasil pembacaan dharani tersebut, terbebaslah mereka dari penderitaannya.

Ibunda Maha Moggalana segera tertolong dan tumimbal lahir di alam yang lebih baik, begitu pula makhluk-makhluk di tiga alam sengsara lainnya, ikut menikmati hasil jasa dan pahala dari diadakannya upacara ini, sehingga merekapun dapat tumimbal lahir ke alam lain sesuai dengan kondisi karmanya.

Agar orang tua yang dalam penderitaan bisa memperoleh keterbebasan. Oleh karena ini, pada hari dan menjelang Hari Raya Tiong Gwan Cwe banyak orang yang bervegetarian dan bersembahyang, mewakili orang tua yang telah meninggal, terbebas dari penderitaan.

Sering orang salah pengertian bahwa upacara Pattidāna sama dengan upacara Cio Ko atau Cio Sie Kow yang dikenal sebagai sembahyang rebutan yang dilakukan di kelenteng-kelenteng Taois atau Vihara Avalokiteswara.

Upacara Cio Ko atau ”sembahyang rebutan“ berdasarkan kepercayaan dalam cerita See Yu atau perjalanan ke Barat. Upacara ini dilakukan setelah tanggal 15 Imlek bulan ke tujuh (Cit Gwee). Karena sebelum tanggal tersebut keluarga masih melakukan sembahyang leluhur di rumah atau di makam, sehingga disebut sebagai ”sembahyang kubur”. Upacara Cio Ko ditujukan untuk ”arwah” yang mendapat cuti berkunjung ke rumahnya tetapi keluarganya sudah tidak mengingat mereka lagi.

Sedangkan upacara Pattidāna berdasarkan kejadian ketika Raja Bimbisara di Rajagaha mengundang Buddha Gotama dengan para siswa-Nya santap siang. Karena sangat bahagia raja lupa untuk melimpahkan jasa kebajikan kepada para leluhurnya yang terlahir di alam peta, sehingga pada malam hari mendapat gangguan dari peta-peta tersebut. Maka keesokan harinya raja mengundang kembali Guru Agung Buddha dan melimpahkan jasanya kepada leluhurnya.

Jadi upacara Pattidāna dapat dilakukan kapan saja bila kita mendapat kesempatan berbuat baik dan pikiran sedang bahagia. Upacara Pattidāna bukan ”upacara duka”. Paritta Avamaïgala dibaca atau diulangi agar yang mendengar dan setelah tahu artinya bisa berubah pikiran dari bersedih menjadi bijaksana dan rela melepas orang yang dicintai.

Semua makhluk turut bersuka cita atas peristiwa ini. Hyang Buddha Sakyamuni menamakan upacara ini dengan nama Upacara Ullambana, yaitu suatu upacara untuk menolong makhluk-makhluk yang karena karma buruknya tumimbal lahir dan menderita di 3 alam sengsara. Selanjutnya upacara ini dilakukan tiap tahun sampai sekarang. Demikianlah asal mula diadakannya Upacara Ullambana yang tetap diperingati setiap tahun sampai sekarang.

MANTRA MEMBALAS BUDI ORANG TUA

Mantra membalas budi orang tua “Namo Miliduo Duoboyi Soha”, bila setiap hari dalam bulan cioko /7 ( lunar) membacanya 49 kali, maka dapat membalas budi jasa orang tua. Ini adalah sebuah penekunan upaya kausalya bagi perorangan, karena jika Upacara Ritual Ullambana dilakukan sendiri maka tidak semua orang yang sanggup membiayainya, namun bila dilaksanakan bersama dengan khalayak, biaya yang dikeluarkan akan lebih sedikit dan manfaatnya sama.

Bila keluarga miskin tidak sanggup mengikuti Upacara Ulambana, maka disarankan untuk membaca mantra ini 49 kali setiap hari, bila dalam bulan 7 dilaksanakan setiap hari, maka juga akan berhasil meyeberangkan arwah orang tua. Tiap keluarga melahirkan Buddha, pahalanya sangat besar. ini juga berlaku untuk orang tua yang masih hidup ... dapat dilihat bila orang tuanya sering sakit-sakitan dengan dibacanya mantera ini dapat mengurangi penderitaannya. Tentu saja ini hanya sebagian kecil cara untuk membalas jasa orang tua kita... yang berjodoh silakan dicoba...yang tidak percaya abaikan saja..


https://www.facebook.com/photo.php?fbid=498436703572942&set=a.451274724955807.1073741825.100002198507840&type=1&theater 

Senin, 01 Juli 2013

3 Orang Bijak dan Sup Batu

3 Orang Bijak dan Sup Batu – Sobat mover, pernahkah kalian merasa sangat putus asa dengan keadaan yang sobat mover hadapi? Apakah kalian berusaha untk menyerah dan menyerahkan semua kepada Tuhan? Hmmm… jika sobat mover pernah merasakan hal seperti itu, maka sobat mover wajib membaca kisah inspirasi yang admin sajikan kali ini.
Pada suatu hari, tiga orang bijaksana berjalan melintasi sebuah desa kecil. Desa itu tampak miskin. Tampak dari sawah-sawah sekitarnya yang sudah tidak menghasilkan apa-apa lagi. Ya, memang telah terjadi perang di negeri itu dan sebagai rakyat jelata merekalah yang kena dampaknya. Macetnya distribusi pupuk, bibit, dan kesulitan-kesulitan lain membuat sawah mereka tidak mampu menghasilkan apa-apa lagi. Cuma beberapa puluh orang yang masih setia tinggal di desa itu.
Sekonyong-konyong beberapa orang mengerubuti tiga orang bijaksana itu. Dengan memijit-mijit tangan dan punggung tiga orang itu, orang-orang desa memelas dan meminta sedekah, roti, beras, atau apalah yang bisa dimakan.
Satu dari tiga orang bijaksana itu lalu bertanya kepada penduduk desa itu, “Apakah kalian tidak punya apa-apa, hingga kalian meminta-minta seperti ini ?”
“Kami tidak memiliki apapun untuk dimakan, hanya batu-batu berserakan itu yang kita miliki.” Jawab salah satu penduduk desa.
“Maukah kalian kuajari untuk membuat sup dari batu-batu itu ?” Tanya orang bijaksana sekali lagi.
Dengan setengah tidak percaya, penduduk itu menjawab, “Mau..”
“Baiklah ikutilah petunjukku.” Orang bijaksana itu menjelaskan, “Pertama-tama, ambil tiga batu besar itu, lalu cucilah hingga bersih !” perintah orang bijaksana sambil menunjuk tiga buah batu sebesar kepalan tangan.
Orang-orang pun mengikuti perintahnya.
Sesudah batu itu dicuci dengan bersih hingga tanpa ada pasir sedikitpun di permukaannya. Orang bijaksana itu lalu menyuruh penduduk untuk menyiapkan panci yang paling besar dan menyuruh panci itu untuk diisi dengan  air. Ketiga batu bersih itupun lalu dimasukkan ke dalam panci dan sesuai dengan petunjuk orang bijaksana itu, batu-batu itupun mulai direbus.
“Ada yang dari kalian tau bumbu masak? Batu-batu itu tidak akan enak rasanya jika dimasak tanpa bumbu.” Tanya orang bijaksana.
“Aku tahu !” seru seorang ibu, kemudian ia mengambil sebagian persediaan bumbu dapurnya, kemudian meraciknya, dan memasukkannya kedalam panci besar itu.
“Adakah dari kalian yang memiliki bahan-bahan sup yang lain ?” Tanya orang bijaksana itu. “Sup ini akan lebih enak jika kalian menambahkan beberapa bahan lain, jangan cuma batu saja.”
Beberapa penduduk mulai mencari bahan-bahan makanan lain di sekitar desa. Beberapa waktu kemudian dua orang datang dengan membawa tiga kantung kentang. “Kami menemukannya di dekat kali, ternyata ada banyak sekali kentang liar tumbuh disana.” Katanya. Kemudian orang itu mengupas, mencuci, dan memotong-motong kentang-kentang itu dan memasukkannya ke dalam panci.
Kurang dari satu menit, seorang ibu datang dengan membawa wortel dan sawi. “Aku masih punya banyak dari kebun di belakang halaman rumahku.” Kata ibu itu, lalu ibu itu meraciknya dan memasukkannya ke dalam panci.
Sesaat, datang pula seorang bapak dengan tiga ekor kelinci di tangannya. “Aku berhasil memburu tiga ekor kelinci, kalau ada waktu banyak, mungkin aku bisa membawa lebih lagi, soalnya aku baru saja menemukan banyak sekali kawanan kelinci di balik bukit itu.” Dengan bantuan beberapa orang, tiga kelinci itu pun disembelih dan diolah kemudian dimasukkan ke dalam panci.
Merasa telah melihat beberapa orang berhasil menyumbang sesuatu. Penduduk-penduduk yang lain tidak mau kalah, mereka pun mulai mencari-cari sesuatu yang dapat dimasukkan ke dalam panci sebagai pelengkap sup batu. Kurang dari satu jam, beberapa penduduk mulai membawa kol, buncis, jagung, dan bermacam-macam sayuran lain.
Tak hanya itu, anak-anak juga membawa bermacam-macam buah dari hutan. Mereka berpikir akan enak sekali jika buah-buah itu bisa dijadikan pencuci mulut sesudah sup disantap. Ada pula seorang bapak yang membawa susu dari kambing piaraannya, dan ada pula yang membawa madu dari lebah liar yang bersarang di beberapa pohon di desa itu. Bahkan seorang kakek membawa sebungkus bubuk kopi. “Aku masih punya sebungkus kopi bubuk ini, pasti nikmat sekali jika diminum setelah makan sup itu”, Kata si kakek.
Beberapa jam kemudian sup batu itu telah matang. Panci yang sangat besar itu sekarang telah penuh dengan berbagai sayuran dan siap disantap. Dengan suka cita, penduduk itu makan bersama dengan lahapnya. Mereka sudah sangat kenyang, hingga mereka lupa ‘memakan’ batu yang terletak di dasar panci.
Tiga orang bijaksana itu hanya tersenyum melihat tingkah para penduduk itu. Dan mereka pun sadar, sekarang waktunya mereka untuk meneruskan perjalanan. Mereka mohon diri untuk meninggalkan desa itu. Sebelum beranjak pergi, seorang bapak sekonyong-konyong memeluk dan menciumi ketiga orang itu sambil berkata, “Terima kasih telah mengajari kami untuk membuat sup dari batu..”
Apakah sobat mover sudah mengerti maksud dari kisah bijak diatas? Nah sobat mover, admin punya kata kata semangat yang admin dapatkan setelah baca kisah inspirasi diatas. Kata kata semangat tersebut merupakan kata motivasi yang berbunyi “Jika kita mau berusaha, pasti ada jalan untuk mendapatkan apa yang kita cari.” Nah sobat mover, semoga saja kisah inspirasi diatas bisa memacu motivasi kerjasobat mover. Dan jangan lupa, jadikanlah kisah inspirasi diatas sebagai bahan renungan malam.

Rabu, 17 April 2013

Hian Thian Siang Te - Dewa Langit Utara

玄天上帝 Xuan Tian Shang Di {Hok Kian = Hian Thian Siang Te} disebut juga 玄天大帝 Xuan Tian Da Di,元天大帝 Yuan Tian Da Di、北極大帝 Bei Ji Da Di、真武大帝 Zhen Wu Da Di、開天大帝 Kai Tian Da Di、玄武帝 Xuan Wu Di、真武帝 Zhen Wu Di、元武帝 Yuan Wu Di, adalah salah satu Dewa yang paling terkenal dengan wilayah penghormatan yang amat luas, dari Tiongkok Utara sampai Selatan, Taiwan, Malaysia & Indonesia. Sebagian orang menyebutnya sebagai 上帝公Shang Di Gong {Siang Te Kong}. Kedudukannya di kalangan Dewa Langit sangat tinggi, berada setingkat di bawah Yu Huang Da Di {Giok Hong Tai Te}. Merupakan salah satu dari Si Tian Shang Di (baca: Se Thian Sang Ti = Empat Maha Raja Langit), yang terdiri dari :

青天上帝 Qing Tian Shang Di di Timur.

殷天上帝 Yan Tian Shang Di di Selatan.

白天上帝 Bai Tian Shang Di di Barat.

玄天上帝 Xuan Tian Shang Di di Utara.

Hian Thian Siang Te mempunyai kekuasaan di Langit bagian Utara dan menjadi pemimpin tertinggi para Dewa di kawasan tersebut. Arcanya selalu digambarkan dengan menginjak kura-kura dan ular. Xuan Wu adalah dewa yang berkedudukan di wilayah Utara, dilambangkan sebagai ular dan kura-kura. Hian Thian Siang Te
yang disebut juga Zhen Wu Da Di {Cin Bu Tay Tee} adalah Xuan Wu. Pada zaman Dinasti Song secara resmi huruf Xuan diganti Zhen, dan sebutan Xuan Wu diganti menjadi Zhen Wu Da Di. Di sebelah kiri dan kanan Hian Thian Siang Te biasanya terdapat 2 orang pengawal yaitu Jendral Zhao dan Jendral Kang.

Penghormatan kepada Hian Thian Siang Te mulai berkembang pada masa Dinasti Ming. Dikisahkan pada masa permulaan pergerakan Zhu Yuan Zhang (pendiri Dinasti Ming), dalam suatu pertempuran pernah mengalami kekalahan besar, sehingga ia terpaksa bersembunyi di Pegunungan Wu Tang Shan {Bu Tong San}, propinsi Hu Bei, dalam sebuah Kelenteng Shang Di Miao. Berkat perlindungan Hian Thian Siang Te, Zhu Yuan Zhang dapat terhindar dari kejaran pasukan Mongol, yang mengadakan operasi penumpasan besar-besaran terhadap sisa-sisa pasukannya.

Kemudian berkat bantuan Hian Thian Siang Te pula, Zhu Yuan Zhang berhasil mengusir penjajah Mongolia dan menumbangkan Dinasti Yuan. Zhu Yuan Zhang mendirikan Dinasti Ming, setelah mengalahkan saingan-saingannya dalam mempersatukan Tiongkok.

Untuk mengenang jasa-jasa Hian Thian Siang Te dan berterima kasih atas perlindungannya, Zhu Yuan Zhang lalu mendirikan kelenteng penghormatan kepadanya di ibukota Nan Jing (Nan King) dan di Gunung Bu Tong San. Sejak itu Bu Tong San menjadi tempat suci bagi penganut Taoisme. Kemudian penghormatan kepada Hian Thian Siang Te meluas ke seluruh negeri, hampir di setiap kota besar ada kelenteng yang menghormatinya. Kelenteng Hian Thian Siang Te dengan arcanya yang terbuat dari tembaga, bisa dilihat sampai sekarang. Selain itu Hian Thian Siang Te juga diangkat sebagai Dewa Pelindung Negara.

Di Taiwan pada masa Zheng Cheng Gong berkuasa, banyak kelenteng Shang Di Gong {Siang Te Kong} didirikan. Tujuannya adalah untuk menambah wibawa pemerintah dan menjadi pusat pemujaan bersama rakyat dan tentara. Oleh karena itu, kelenteng Shang Di Miao {Siang Te Bio} tersebar di berbagai tempat. Di antaranya yang terbesar adalah di Tai Nan (Taiwan Selatan), yang dibangun pada saat Belanda berkuasa di Taiwan.

Setelah kekuasaan Zheng Cheng Gong jatuh, Dinasti Qing dari Manzhu yang berkuasa, mendiskreditkan Shang Di Gong dengan mengatakan bahwa beliau sebenarnya adalah seorang tukang jagal yang telah bertobat. Usaha ini mempunyai tujuan politik yaitu melenyapkan dan mengikis habis sisa-sisa pengikut Dinasti Ming secara moral, dengan memanfaatkan dongeng ajaran Buddha tentang seorang tukang jagal yang telah bertobat, lalu membelah perutnya sendiri, membuang seluruh isinya dan menjadi pengikut Buddha. Kura-kura dan ular yang diinjak tersebut dikatakan sebagai usus dan jeroan si tukang jagal. Oleh karena itu tingkatannya diturunkan menjadi Malaikat Pelindung Pejagalan.

Sejak itu pembangunan kelenteng-kelenteng Siang Te Bio amat berkurang. Pada masa ini pembangunan kelenteng Shang Di Miao hanya satu, yaitu Lao Gu Shi Miao di Tai Nan.

Namun sebenarnya Kaisar-Kaisar Manzhu sangat menghormati Hian Thian Siang Te, terbukti dengan dibangunnya kelenteng penghormatan khusus untuk Hian Thian Siang Te di komplek Kota Terlarang, Istana Kekaisaran di Beijing, yang dinamakan Qin An Tian. Satu kelenteng lagi dibangun di Istana Persinggahan di Cheng De.

Wu Dang Shan, gunung suci para penganut Taoisme, terletak di propinsi Hu Bei, Tiongkok Tengah. Sejak zaman Dinasti Tang, kelenteng-kelenteng sudah mulai didirikan di sana. Namun pembangunan secara besar-besaran adalah pada masa pemerintahan Kaisar Yong Le pada zaman Dinasti Ming. Hal ini tidak mengherankan karena Xuan Tian Shang Di diangkat sebagai Dewa Pelindung Kerajaan.

Di antara kelenteng-kelenteng di sana yang terkenal adalah Yu Xu Gong {Giok Hi Kiong} dengan bangunannya bergaya istana Beijing, terletak di bagian Barat Laut puncak utama Bu Tong San. Adalagi kelenteng Yu Zhen Gong yang dibangun pada tahun Yong Le ke-15, terletak di kaki Utara Bu Tong San. Di kelenteng ini terdapat penghormatan & arca Zhang San Feng {Thio Sam Hong}, pendiri perguruan silat cabang Wu Dang {Bu Tong Pay}.

Bangunan kuil yang paling lengkap adalah kelenteng Zi Xiao Gong yang terletak di puncak Timur Laut, merupakan pusat dari keseluruhan rangkaian tempat ibadah di gunung tersebut. Arca perunggu Hian Thian Siang Tee hasil pahatan Guru Ji (pemahat ulung dari Korea yang amat terkenal sampai ke manca negara) ditempatkan di sini. Di kelenteng ini dapat terlihat lambang Gunung Bu Tong San yaitu patung kura-kura dan ular. Patung logam itu menggambarkan seekor kura-kura sedang dililit erat-erat oleh seekor ular. Katanya sang ular bermaksud memaksa sang kura-kura memuntahkan semua isi perutnya.

Menurut kepercayaan, kura-kura tersebut berasal dari perut besar (lambung/maag), dan sang ular dari usus Zhen Wu yang berubah ujud. Dikisahkan bahwa suatu ketika dalam samadhinya yang tanpa makan & minum, Zhen Wu merasakan usus dan lambungnya sedang bertengkar. Rupanya rasa lapar yang amat sangat menyebabkan kedua organ tubuh tersebut saling menyalahkan. Zhen Wu menyadari kalau dibiarkan, hal ini dapat mempengaruhi ketentraman batinnya. Dalam kejengkelannya, ia membelah perutnya dan mengeluarkan kedua organ tubuh tersebut, lalu melemparkan ke rerumputan di belakangnya. Kemudian seperti tanpa terjadi sesuatu ia melanjutkan samadhinya.

Sang lambung & usus karena setiap hari mendengarkan Zhen Wu membaca ayat-ayat suci Tao, lama kelamaan memiliki tenaga gaib juga. Keduanya lalu berubah menjadi kura-kura & ular, kemudian menyelinap turun gunung untuk memakan ternak dan juga manusia. Zhen Wu yang telah menjadi Dewa, amat murka akan kejadian ini. Dengan mengendarai awan dan pedang terhunus ia turun gunung. Tebasan pedangnya di punggung kura-kura meninggalkan bekas sampai sekarang. Sejak itu di punggung kura-kura tampak guratan-guratan seperti bekas tebasan pedang. Dengan tali wasiat diikatnya leher sang ular, sehingga sejak itu leher ular menjadi lebih kecil daripada tubuhnya.

Setelah ditaklukkan, kura-kura dan ular memperoleh pangkat Er Jiang yang berarti “Dua Panglima”, dan menjadi landasan tempat duduk Zhen Wu Da Di. Tapi sang kura-kura rupanya masih belum hilang watak silumannya. Hal ini diketahui oleh Zhen Wu, beliau lalu menyuruh sang ular melilit tubuh kura-kura erat-erat, agar segala benda yang telah ditelannya dimuntahkan kembali, dan mengungkapkan semua kejahatan yang pernah dilakukannya. Patung kura-kura dan ular ini sampai sekarang masih ada di ruang belakang kelenteng Zi Xiao Gong, selanjutnya dijadikan logo yang melambangkan gunung Bu Tong San.

Masih ada 1 peninggalan penting yang ada kaitannya dengan Hian Thian Siang Tee, yaitu sebuah sumur yang dinamakan Mo Zhen Jing (Sumur tempat mengasah jarum). Konon pada waktu Zhen Wu sedang melakukan tapa di gunung ini, hatinya merasa goyah. Ia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Sampai di tepi sumur ini ia melihat seorang wanita tua sedang mengasah alu besi. Zhen Wu merasa heran, lalu menanyakan apa maksud si nenek mengasah alu besi. Dengan tertawa si nenek berkata bahwa ia sedang mengasah alu untuk membuat jarum sulam. Mendengar jawaban ini Zhen Wu baru menyadari maksud yang terkandung di balik perkataan sang nenek. Segera ia kembali ke atas gunung untuk melanjutkan tapanya. Nama Mo Zhen Jing kemudian menjadi terkenal. Kini di dekat sumur itu dibangun rangon dan patung seorang nenek tua yang sedang mengasah alu.

Sehubungan dengan kura-kura dan ular ini, para pengusaha rakit bambu di Taiwan dan Hongkong sembahyang kepada Hian Thian Siang Tee, agar kura-kura dan ular di sungai-sungai tidak berani menimbulkan ombak dan gelombang yang mengancam usaha mereka. Selain di Taiwan dan Hongkong, persembahyangan kepada Hian Thian Siang Tee ini telah menyebar ke Asia Tenggara, terutama di Malaysia, Singapura dan Indonesia. Di Singapura, kelenteng Wak Hai Cheng Bio di Philip Street, terkenal sembahyang kepada Hian Thian Siang Tee. Di Indonesia hampir setiap kelenteng menyediakan altar untuknya.

Menurut cerita, Kelenteng Hian Thian Siang Tee yang pertama di Indonesia adalah Kelenteng Welahan, Jawa Tengah. Di Semarang, sebagian besar kelenteng ada menyediakan altar khusus untuknya. Sedangkan kelenteng yang khusus sembahyang Hian Thian Siang Tee sebagai tuan rumah adalah Kelenteng Gerajen & Bugangan.

Hian Thian Siang Tee (Zhen Wu Da Di / Cin Bu Tay Tee) ditampilkan sebagai seorang dewa yang memakai pakaian perang keemasan dengan tangan kanan menghunus pedang penakluk iblis, kedua kakinya yang tanpa sepatu menginjak kura-kura dan ular. Hari Se Jit Hian Thian Siang Te diperingati setiap tanggal 3 bulan 3 Imlek.


https://www.facebook.com/photo.php?fbid=450866591663287&set=a.283020685114546.67697.100002198507840&type=1&theater

Selasa, 29 Januari 2013

Ajari Anak Jangan Sambil Emosi Dong !

Hasil penelitian mengatakan bahwa agresi psikologis bisa membuat anak menjadi sulit beradaptasi atau bahkan berperilaku buruk, karena berbagai faktor.
Bentuk penerapan disiplin yang terlalu keras pada anak -- yang biasanya dilakukan orang tua yang masih muda usia -- sebaiknya jangan dilakukan. Sebab bisa mempengaruhi mentalnya di masa mendatang.
Begitulah kesimpulan hasil sebuah survei tentang orang tua dan perilaku agresif terhadap anak yang dilakukan oleh Murray Straus, seorang sosiolog dari University of New Hampshire terhadap 991 orang tua.
Menurut survei tersebut, membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agresi yang dilakukan orang tua. Dibandingkan tindakan yang lebih ekstrim lagi, seperti mengancam, memaki, dan memanggil dengan kasar dengan panggilan bodoh, malas dan sebagainya, maka membentak memang paling banyak dilakukan.
Bukan hanya kepada anak, bayi pun kena bentak. Tetapi biasanya semakin muda usia orang tua, semakin sering pula mereka melakukan 'tindakan disiplin' tersebut.
Dari survei itu, 90% mengaku melakukan bentuk-bentuk agresi psikologis saat dua tahun pertama usia anak. Dan 75% di antaranya mengaku melakukan bentakan atau berteriak pada anak. Seperempat orang tua menyumpahi atau memaki anaknya, dan sekitar 6% bahkan mengancam untuk mengusir sang anak.
Menurut Straus, tindakan ini membawa efek psikologis jangka panjang bagi sang anak, walaupun secara hukum belum bisa disebut kekerasan terhadap anak. Tetapi memang dampaknya tidak langsung kelihatan dan biasanya baru ketahuan setelah mereka semakin dewasa.
Straus menambahkan bahwa agresi psikologis itu bisa membuat anak menjadi sulit beradaptasi atau bahkan berperilaku buruk, karena berbagai faktor. Misalnya, menjadi kurang percaya diri, atau sebaliknya, menjadi pemberontak.
Tetapi yang paling dikhawatirkan adalah kalau mereka melakukan hal yang sama terhadap anak mereka kelak. Padahal kalau secara psikologis, kelakukan anak yang salah seharusnya diperbaiki, bukan dibentak-bentak dan dimarahi.
Kalau mengajari anak, sebaiknya emosi orang tua dijagalah !
(sumber : satumed.com)

Mempelajari Tangisan Bayi







Setiap kali seorang bayi menangis, pasti si ibu akan menyorongkan payudaranya atau membopongnya. Tapi, ketika dua hal itu sudah dilakukan, dan si mungil masih saja menangis, barulah si ibu bingung.
Nah, coba saja si ibu tahu arti tangisan itu, kan tak perlu bingung?

Tapi, bagaimana tahu arti tangisan bayi?

Tangisan merupakan alat komunikasi pertama yang dikuasai bayi. Lewat tangisan, bayi mengutarakan keinginan dan kebutuhannya secara efektif. Tak heran, bayi menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas ini.
Dalam buku Your Child's Body Language, Dr. Richard Woolfson menjelaskan bahwa tangisan bayi mempunyai arti berbeda-beda. Setiap jenis tangisan mengkomunikasikan pesan tersendiri untuk ayah ibunya.
Di bawah ini beberapa contoh tangisan bayi dan cara mengatasinya.

Tangisan Aku Ingin Menyusu:

Bayi Anda akan mulai menangis jika lapar. Tangisannya biasanya berulang-ulang. Pertama, ia menangis lalu berhenti sejenak untuk mengambil napas, menangis lagi, berhenti sejenak untuk mengambil nafas, demikians seterusnya. Mengatasinya, susui dia hingga kenyang. Atau, jangan-jangan sudah waktunya makan?

Tangisan Popokku Kotor: 
Bayi lebih suka popoknya bersih dan kering. Jika popoknya basah ia akan menangis karena merasa tidak dari rasa tidak nyaman. Tangisan pengumumam popokku kotor biasanya perlahan, kemudian makin keras dan makin keras. Anda juga bisa memperhatikan bahwa ia bergeliut-geliut di tempat tidurnya. Mengatasinya, segera periksa popoknya. Ia barangkali memerlukan popok yang baru.

Tangisan Badanku Sakiiit:

Semua bayi menangis jika ia merasa sakit. Tangisan jenis ini adalah tangisan bernada tinggi, hampir seperti jeritan, kemudian ia terengah-engah pada saat menarik nafas, lalu menjerit lagi. Jalan keluar, cobalah temukan apa yang membuatnya kesakitan. Pegang perutnya, jangan-jangan kejang. Goyang-goyang tangan, kaki atau leher dan kepalanya. Jika ia menjerit lebih keras ketika menggoyang bagian tertentu, mungkin ada yang sakit karena terjatuh tanpa sepengetahuan Anda. Kompreslah bagian yang sakit dengan air hangat.

Tangisan Aku Bosan: 
Bayi selalu memerlukan stimulasi dan akan timbul bosan jika ia tidak memperolehnya, atau bahkan bosan dengan satu aktivitas saja. Tangisan jenis ini dirancang untuk mendapat perhatian Anda. Makanya, tangisan ini lebih mirip teriakan ketimbang tangisan. Dan, ia akan tetap menagis seperti ini selama ia merasa bosan. Mengatasinya, ganti aktivitasnya. Misal, temani dia bermain, menyenandungkan nyanyian, membacakan cerita atau bisa juga ajak jalan-jalan.

Tangisan minta gendong:

Bayi Anda akan menjadi cengeng jika lelah, walaupun ia mungkin tidak ingin tidur. Ia akan merengek dengan menjengkelkan. Kepalanya mungkin terangguk-angguk untuk beberapa detik, dan mungkin Anda melihat bahwa ia menggosok-gosokkan tangannya pada mata serta wajahnya. Mengatasinya, ayunlah ia perlahan-lahan sampai akhirnya ia jatuh tertidur.

Tangisan kesepian:

Bayi Anda senang bergaul. Ia ingin Anda selalu berada di sisinya. Jika merasa kesepian, tangisannya akan terdengar menyedihkan. Seakan ia tengah sedih atau marah. Mengatasinya, luangkan waktu bersamanya paling tidak sampai ia tenang. Jika Anda perlu menyelesaikan sesuatu, gendonglah ia sampai tenang, kemudian lanjutkan pekerjaan anda bersamanya di sisi Anda.

Nah, itulah beberapa ciri tangisan bayi Anda. Dan, kini sudah tahu rahasianya, kan? Jadi, jangan langsung nyorongkan payudara lagi, ya? (ia/cbn/CN02) (sumber: CyberNews Suara Merdeka)